Wanita selalu merasa dirugikan oleh ejakulasi dini. Baca mitos ini dan segera bebaskan diri Anda dari belenggu intimidasi.

Yuk, kita lanjutin beberapa mitos salah kaprah seputar ejakulasi dini.

Mitos 5: Anda bisa bertahan lebih lama dengan senam kegel
Kegel melatih otot genital yang disebut otot pubococcus (PC). Beberapa orang mengatakan dengan cara melatih otot ini, dapat menahan ejakulasi. Itu hanya fakta yang setengah benar. Latihan kegel jelas dapat meningkatkan kekuatan dan kenikmatan pada saat orgasme. Namun jika Anda menekan otot PC saat sedang melakukan seks, justru malah dapat mempercepat ejakulasi atau bahkan membuat Anda tidak menginginkan hal tersebut lagi.

Berita baiknya: Senam kegel bisa membantu Anda memberikan kenikmatan yang lebih saat orgasme dan senam ini dapat membantu bagi Anda yang mengalami disfungsi ereksi. Namun hal ini tidak berarti efektif untuk memperlambat ejakulasi Anda.

Mitos 6: Ejakulasi dini hanya mengurangi pasangan. Jadi sebagai kompensasinya, Anda memperlama foreplay dan dibantu tangan dan lidah
Banyak pria berpikir yang penting membuat pasangan mendapatkan orgasme, sehingga pria bisa ejakulasi kapan saja tanpa beban dan semua itu tidak menimbulkan efek. Anda salah. Hal di atas justru menimbulkan efek fisik dan mental bagi Anda maupun pasangan Anda. Hal ini akan menurunkan rasa percaya diri Anda secara perlahan dan sensasi yang Anda dapatkan ketika orgasme juga akan menurun. Begitu juga terhadap sang wanita. Mendapatkan orgasme dengan bantuan tangan atau lidah sama sekali berbeda sensasinya dibanding orgasme dengan penis. Wanita akan mengalami orgasme yang hebat jika dilakukan dengan penis.

Berita baiknya: Jika Anda dapat memperlambat ejakulasi Anda sampai dia orgasme, hal itu akan membuat perbedaan yang sangat besar dalam hubungan seks Anda.

Mitos 7: Semua ejakulasi dini sama saja
Hal di atas hanya setengah benar. Faktanya adalah ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya ejakulasi dini dan ada beberapa kondisi tertentu yang menyebabkan hal tersebut. Dari sudut waktu, ada yang disebut kondisi seumur hidup, yang artinya, pria tersebut selalu mengalami ejakulasi dini apa pun jenis stimulasinya. Namun ada juga jenis ejakulasi dini yang terjadi karena situasi tertentu, misalnya akibat terlalu lelah, stres, atau terlalu bergairah.

Berita baik (sekaligus berita buruk): Jika mengalami ejakulasi dini akibat situasi tertentu, hal tersebut dapat diperbaiki seiring bertambahnya usia, karena semakin bertambah usia, pria semakin dapat mengontrol mentalnya. Namun jika mengalami kondisi ejakulasi dini seumur hidup, hal itu tidak bisa disembuhkan. Namun untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, kami sarankan Anda segera periksakan diri Anda ke dokter dan tanyakan masalah ini lebih detil.

Mitos 8: Masturbasi tidak memiliki efek samping
Ini pernyataan yang kurang tepat. Sebagian besar orang yang mengalami ejakulasi dini, mereka adalah orang-orang yang sering melakukan masturbasi. Saat melakukan ‘solo’ mungkin pria bisa menahan kapan mau ‘keluar’, tapi belum tentu hal tersebut dapat berhasil saat melakukan hubungan seks dengan pasangan.

Berita baiknya: Sekalipun Anda sering melakukan masturbasi, Anda masih tetap bisa melatih diri untuk menahan ejakulasi. Karena sekali lagi, ejakulasi dini adalah masalah psikologis. Namun lebih baik jika Anda dapat menghentikan kebiasaan masturbasi, sebelum berakibat fatal.

Mitos 9: Anda tidak bisa mengubahnya, jadi mulailah menerima kenyataan
Pernyataan ini salah. Anda bisa mengubah hal tersebut. Seperti yang sudah diketahui, sebagian besar kasus ejakulasi dini disebabkan faktor psikologis. Sebuah penelitian mengatakan beberapa orang yang mengalami ejakulasi dini memiliki tingkat hormon serotonin yang rendah. Serotonin ini merupakan hormon yang memberikan efek rileks pada tubuh.

Berita baiknya: Anda bisa meningkatkan serotonin dalam tubuh, salah satunya dengan cara olahraga teratur dan menjaga kualitas makanan Anda. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah dengan cara melatih diri Anda untuk berpikir dan berkata-kata positif.

(Majalah Men’s Fitness Indonesia, edisi Maret 2011)